Tuesday, 23 December 2008

Jangan Berangkat Haji


La baik awlohumma la baiik,
La baiik ala syarikalla ka labaiik,
Minal Hammda wa ni'matta..

Entah untuk orang lain, tapi untuk diri saya pribadi mendengar penggalan kata diatas ketika musim haji datang tiap tahun mesti bikin saya merinding mulai dari leher sampe kedua tangan. Ada semacam spirit yang sangat kuat akan keikhlasan, kepasrahan, kerendahan hati, dan penyerahan diri yang total dari para jemaah haji yang mengumandangkan kalimat diatas. Iya, naik haji merupakan salah satu media bagi umat Islam untuk menunjukkan totalitas ketaatan-nya kepada Sang Khalik; pencipta alam jagat raya yang Maha luas, Maha tinggi, dan Maha dalam ini. Bagaimana tidak, untuk membulatkan niat berangkat ke tanah suci bukan lah hal yang mudah dan sederhana. Mungkin kita berpikir harus jadi kaya dulu, baru bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Padahal sudah teramat banyak fakta-fakta yang lebih mendekati sebuah mukjizat, dimana seseorang yang biasa-biasa saja kondisi finansialnya; namun dapat berangkat ke tanah suci. Maha Suci Alloh dengan segala rahasia-Nya.

Satu poin yang mesti dicetak tebal dalam obrolan kita pada postingan ini adalah Niat. Iya, walaupun cuma modal niat; siapa yang tau kan keberangkatan kita ke tanah suci dipercepat? Amiin. Tentu niat-nya bukan sembarang niat toh, betul-betul niat yang jernih. Sekarang, kalo punya kekayaan tapi niatnya kosongan, nah alamat orang model begini nih kemungkinan besar berangkat haji-nya ketunda lama. Padahal kekayaan itu bukan hal yang kekal toh?

Jadi Mau Pilih mana? Punya Niat haji tapi belum didukung kondisi keuangan, atau punya kekayaan tapi niatnya masih tipis? Hehe.. Kalo saya pasti lebih milih niat-nya kuenceng, terus kondisi keuangan juga mendukung; amiin. Atau mungkin temen-temen familiar dengan statement macam ini, " Aduuh.. ntar dulu lah masih belum siap ". Atau " Iiih.. malu deh kalo pulang dari haji kelakuan gue belom berubah juga ". Sepintas memang alasan yang diungkapkan seperti logis dan penuh perhitungan, padahal aselinya sama sekali ndak nyambung alias memang belum ada niatnya aja.

Untuk kajian yang lebih mendalam, mari kita berangkat ke majelis ta'lim masing-masing. Karena terus terang bukan kapasitas saya membahas masalah rukun Islam ini. Bukan mencari-cari alasan, tapi kompetensi dan pertanggung jawaban itu hal yang sangat penting, bukan?

Jangan Berangkat Haji, Kenapa?
Lebih jauh dalam postingan ini, saya ingin meracau soal pelaksanaan haji Indonesia tahun 2008 yang ditengarai sebagai pelaksanaan haji terburuk dalam sejarah pelaksanaan haji di tanah air. Bukan berarti pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya sempurna, tapi untuk tahun ini sepertinya sudah masuk kategori keterlaluan. Sungguh ironis sebuah agenda tahunan yang dikordinasi oleh pemerintah setiap tahunnya ini, kembali harus menuai hasil yang mengecewakan. Sampai-sampai membuahkan manuver DPR untuk menggunakan salah satu hak-nya, yaitu hak angket. Apa belum cukup evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Evaluasi disini tentu bertujuan mengeliminasi kesalahan-kesalahan yang sebelumnya terjadi agar tidak terulang dipelaksanaan tahun berikutnya. Dan, tindakan preventif tenti perlu disiapkan untuk mencegah segala kemungkinan masalah lainnya yang diperkirakan dapat muncul. Itu baru namanya evaluasi yang benar.

Terus terang informasi yang saya terima soal topik ini berasal dari media-media massa dalam negeri, ditambah dari teman dan kerabat yang baru kembali dari tanah suci; kemudian bercerita. Padahal juga bukan saya yang berangkat, tapi saya ikut-ikutan mangkel setengah mati. Bagaimana coba kalo saya yang berangkat tahun ini, yah Alhamdulillah sih tapi sangat mungkin saya kecewa. Terus walaupun saya tidak berhaji tahun ini, terus saya cuman boleh ndumel aja? huuh, nehi yaa..

Dari sekian banyak masalah dan kesulitan yang dihadapi jamaah haji Indonesia, diantaranya : Kesatu, masalah catering, masalah kebutuhan paling mendasar itu pun ndak luput dari masalah. Sudah pernah kita dengar ditahun-tahun sebelumnya soal pengantaran makanan yang terlambat hingga mencapai belasan jam, kualitas makanan yang kurang memadai, dan seterusnya. Nah, untuk tahun ini masalah pun belum kunjung hilang alias masih aja terus-terusan terjadi. Bukankah semestinya pelaksanaan haji tahun ini sedikitnya mengambil pelajaran dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya?

Kedua, Masalah pemondokkan. Masak sih, jamaah haji Indonesia sebagai salah satu jamaah terbesar tiap tahunnya selalu di anak-tirikan dalam hal pemondokka. Cerita paman saya, ada jamaah kita yang terpaksa menempati pondokkan yang jaraknya 15 KM dari Masjidil Haram. Atau setara dengan 2 Jam perjalanan, tanpa sistem transportasi yang disediakan sebagai bagian dari fasilitas. Bahkan menurut cerita, mereka yang menempati pemukiman haji itu (saya lupa namanya) ada yang hanya dua kali ke masjidil haram. Bayangkan, sudah jauh-jauh datang dari tanah air untuk beribadah malahan terganjal pemondokkan yang tidak destination friendly. Ada cerita lain, untuk membeli bahan keperluan beberapa jamaah harus patungan bersama dan terpaksa berjalan kaki sangat jauh untuk akhirnya mencapai daerah yang berpenghuni. Satu kelompok ada yang tersasar, kelompok lain yang memilih taksi untuk kembali ke pemondokkan pun tersasar karena supir taksi sendiri tidak mengenal daerah ini. Sungguh keterlaluan.

Dengan miris, paman saya menambahkan " Enaknya jamah Malaysia, pondokannya pada deket ke masjid.. ". Padahal saya kok yakin jamaah kita jumlahnya lebih banyak, bukan seharusnya bargaining position dalam mendapatkan fasilitas berhaji pun lebih baik? Lain soal kalo pelaksana haji sendiri yang nakal, dan tidak sesuai dalam soal alokasi dana; mudah-mudahan sangkaan saya salah.

Percaya atau tidak, kemalangan yang menimpa jamah Indonesia dalam hal teknis pelaksanaan masih ada beberapa poin yang akan teramat panjang jika ikut dibahas seluruhnya. Tujuan saya hanya ingin martabat bangsa kita diperhatikan dalam pelaksanaan haji di tahun mendatang, dan perbaikan signifikan yang membahagiakan.

Jangan Berangkat Haji, Jika Belum Ada Perbaikan..

2 comments:

masmpep said...

itulah repotnya. haji bukan semata urusan niat dan ibadah. tetapi termasuk tata kelola. mengorganisasi 200 ribu jamaah bukan perkara mudah. namun pemerintah kan sudah puluhan tahun mengelola ini. jadi memang harusnya lebih pengalaman. soal tata kelola memang harus diperjuangkan. jadi kalau ada iklan: pemondokan jauh. jalan ke masjid lebih jauh berarti lebih banyak pahalanya', adalah iklan yang gak kontekstual. membodohi. apalagi disampaikan 'model' ketua mui.

ayo bung haris. kita reformasi departemen agama kita. atau dibubarkan dulu (seperti pola gus dur). setelah dua tiga tahun diaktifkan kembali.

masmpep

atmosfer kata-kata said...

setuju ini,perbaikan tata kelola (baca: manajemen) pelaksanaan haji satu2nya solusi strategis lah..

tapi apa benar urgent membubarkan (walaupun semantara)? kalo untuk me-reformasi,kok saya bingung sendiri gmn cara-nya yaah mas.. hehe

salam