Kamis, 11 Juni 2009

Suku Hmong, Perspektif Cinta, Sex & Local Wishdom..


Lumayan lama gue punya kegemaran nonton documentary film di National Geographic Channel. Ada banyak pengetahuan dan cerita, tentang banyak hal. Bonusnya, pengetahuan itu semua disajikan lewat media audio visual yang digarap super serius; jadi hasilnya pasti juara banget!

Satu waktu gue nonton film dokumenter di NatGeo yang isinya tentang ritual khusus 'perayaan cinta' suku Hmong yang menghuni wilayah pedalaman utara Vietnam yang berlansekap pegunungan dan berbatasan langsung dengan China. Banyak dari suku-suku penghuni wilayah pegunungan ini yang hidupnya mengasing jauh kedalam, terpisah jarak antara gunung yang satu dengan lainnya. Kehidupan mereka terbilang sangat subsisten (basic needs) dan sangat sederhana. Bisa disamakan dengan suku Badui di daerah Ciboleger, Banten atau bahkan suku Dani di Lembah Baliem, Papua.

Selayaknya suku yang terpencil, kehidupan mereka sangat minim inovasi dengan segala prosedur tingkah-laku yang diatur berdasar kepada tradisi serta kebiasaan leluhur. Selain cara bercocok tanam dan berladang, kehidupan pernikahan pun terikat erat dengan tradisi kebiasaan leluhur mereka. Walaupun tradisi mereka tidak melarang untuk memilih pasangan hidup, namun perjodohan antar keluarga menjadi tata-cara yang sangat jamak dipilih sebagai ketentuan nasib seorang anggota suku Hmong yang dianggap mencapai usia yang cukup. Bagi mereka yang diperjodohkan, tetap menempatkan pernikahan mereka sebagai lembaga yang sakral dan suci; kesetiaan merupakan pondasi dasar pernikahan mereka. Ketidaksetiaan dalam pernikahan merupakan 'dosa' terbesar yang sulit termaafkan. Seperti hubungan sex diluar pernikahan dan dilakukan setelah menikah, pelakunya akan diancam ganjaran hukuman yang lebih keras dibandingkan dosa melakukan pembunuhan. Poligami tidak dikenal dalam hukum hidup suku Hmong. Pernikahan dilakukan satu kali seumur hidup, dengan satu orang yang sama kecuali pasangan mereka meninggal. Angka perceraian pun hampir nol.

Namun ada satu tradisi otentik yang membuat suku Hmong unik, berbeda, dan istimewa dibandingkan suku-suku lain dari segala penjuru dunia ini, adalah Love Market Tradition. Love Market Tradition (Tradisi Pasar Cinta) diadakan cukup satu hari dalam setahun. dan, bagaimana tradisi perayaan ini menjadi begitu istimewa?

Tradisi ini adalah satu tradisi yang ditunggu kehadirannya setiap tahun, diikuti oleh seluruh suku-suku Hmong yang terpisah jarak antara jajaran gunung yang sangat berjauhan. Pesertanya pun terdiri dari berbagai usia mulai remaja, dewasa, bahkan usia paruh baya hingga senja. Baik yang sudah menikah maupun masih lajang. "Tradisi Pasar Cinta" adalah satu hari dimana hukum kesetiaan pernikahan dan larangan berhubungan sex diluar ikatan pernikahan ditinggalkan selama sehari-semalam. Pada perayaan ini, setiap orang memiliki kebebasan memilih pasangan one night stand-nya dengan bebas. Tapi jangan buru-buru menyangka tradisi ini dilakukan layaknya pesta orgy (pesta sex) yang liar. Tradisi ini dilakukan dengan unsur tata krama adat yang dihormati.

Tradisi Pasar Cinta dimulai pada hari pertama pergantian tahun berdasarkan penanggalan suku Hmong, atau tepat setiap 365 hari sekali. Perayaan dimulai pada pagi hari, dimana seluruh anggota suku Hmong yang terpisah antar gunung berduyun-duyun menuju desa Khau Vai sebagai tempat diadakannya tradisi love market ini. Dengan pakaian adat khas yang colorful sebagai pakaian terbaik yang mereka miliki, orang Hmong mencapai tempat acara setelah melakukan perjalanan berjam-jam bahkan hingga berhari-hari. Sebagaian menggunakan motor, namun jauh lebih banyak yang berjalan kaki mengingat medan perjalanan yang bergunung-gunung.

Di tempat ini layaknya pasar yang dibuka setahun sekali, ada banyak barang-barang kebutuhan yang dijajakan dan umumnya masih menggunakan sistem barter untuk transaksi. Selain itu, Love Market Tradition juga belum lengkap tanpa arak beras yang khas buatan 'orang Hmong'. Ada tarian-tarian, pertunjukkan musik, atau sekedar pertemuan kerabat yang terpisah selama bertahun-tahun. Menjelang malam Love Market makin meriah, karena inilah saat terakhir bagi mereka untuk mendapatkan 'pasangan tidur semalam'. Arak semakin banyak dituangkan ke gelas-gelas kosong, menumbuhkan rasa percaya diri dan kepribadian mereka yang selama setahun terpendam. Bagi usia remaja yang bertujuan mencari jodoh, si laki-laki akan merebut barang-barang perempuan sebagai simbol dirinya menaruh minat para perempuan itu; barang yang diambil dapat berupa penutup kepala, tas, selendang, atau benda apapun yang dipakai perempuan tadi. Jika si perempuan juga berminat, maka benda miliknya tidak akan diminta kembali dan malam itu akan mereka habiskan bersama. Pada umumnya juga pernikahan pada suku Hmong terjadi jika si perempuan hamil, dan si laki-laki akan datang melamar.

Sedangkan pada peserta perayaan yang usia-nya lebih tua dan telah menikah, tidak ada acara saling mengambil barang sebagaimana usia remaja melakukannya. Mereka cukup berpandangan, kemudian pihak laki-laki berinisiatif menghampiri, dan si perempuan akan menyuguhkan arak sebagai tanda persetujuan; kemudian malam pun akan mereka habiskan bersama. Sebagian hubungan one night stand ini mereka lakukan tanpa saling mengenal sebelumnya, namun sebagian yang lain dilakukan oleh para mantan kekasih mereka yang tidak ditakdirkan berjodoh karena hukum perjodohan pada suku mereka. Kesetiaan pernikahan akan hilang cukup dalam jangka waktu satu malam. Karena setelah perayaan 'Pasar Cinta' berakhir keesokan harinya, kehidupan mereka akan kembali sebagaimana semula. Suami yang bertanggung jawab menjadi pelindung keluarga dan istri yang akan setia memegang teguh norma pernikahan yang kuat berdasarkan hukum tradisi suku mereka.

Heran? mungkin sebagian dari kita akan berpikiran demikian. Tapi, bagi saya perayaan Love Market ini membuat saya Amaze. Bagaimana hukum kesetiaan dalam pernikahan sangatlah kuat, tanpa mengenal istilah perselingkuhan, perceraian atau bahkan poligami. Namun mereka menciptakan tradisi yang sangat kontradiktif, dan secara bersamaan begitu permisif; luar biasa. Jika dikonversi dalam peribahasa akan terdengar 'Kemarau selama setahun, dibayar dengan hujan sehari'. Kapan ya saya bisa pergi berkunjung ke Vietnam, khususnya ke desa Khau Vai untuk menyaksikan Love Market of Hmong Tribe..


Jumat, 29 Mei 2009

Ladies Parking dan Cedera Paham Feminisme


Ladies Parking

Coba deh, berapa kali temen-temen pergi ke Mal, dalam seminggu? atau sebulan?. Kayaknya Mal emang udah jadi bagian dari kehidupan banyak manusia yang hidup di Jakarta. Mulai dari sekedar belanja-belanja, ngopi-ngopi, nonton film, pacaran, urusan meeting, dan bahkan untuk acara reuni temen lama, arisan, perayaan ulang tahun; Mal jadi situs primadona. Temen gue sendiri menyebut Mal sebagai 'all-in-one' place for 'multipurposes', semua deh ada disini..hehe tentunya terlepas dari opini kamu yang setuju atau nggak. Mal udah makin menjadi tempat yang sulit dilepas dari kehidupan kita yang tinggal di Jakarta ini. Mulai dari anak balita, ABG, dewasa, sampe kakek-nenek; Mall welcomes you all =)

Tetapi dibalik karakteristik Mal yang sangat egaliter tadi, terselip satu 'noda' yang mengandung sifat eksklusif; ironisnya noda itu dalam hal isu gender. Yaitu, munculnya fenomena Ladies Parking. Ladies Parking seperti yang kita sama-sama tau, adalah spot parkir yang khusus disediakan bagi kaum perempuan yang mengendari sendiri mobilnya. Lokasi parkir untuk Ladies Parking sendiri terbilang sangat strategis, dengan posisinya yang mendekat ke akses-akses pintu masuk Mal. Nggak ayal kalo spot parkir macam ini cukup jadi incaran bagi para pengendara mobil, baik laki-laki maupun perempuan.

Fenomena Ladies Parking merebak hampir diseluruh Mal di Jakarta ini, seakan-akan muncul kesan yang halus, "nggak modern kalo Mal nggak ada Ladies Parking-nya". Fenomena ini pun mulai terjadi nggak lebih atau sekitar 2 tahun kebelakang, atau terbilang sebagai fenomena yang masih baru. Terus kenapa diatas, Ladies Parking gue sebut sebagai "Noda"?

Disini permasalahannya, mungkin sebagian dari kita; agak kurang skeptis. Coba aja kalo kaum perempuan mau sedikit aja skeptis sama fenomena yang ada. Kalo gue ditanya tentang hal ini, dan gue diumpamain sebagai perempuan, jelas gue bakal tersinggung. Loh emangnya kenapa, bukannya malah enak? Emang enak sih, tapi justru malah kenapa-kenapa banget! Kalo gue perempuan, mungkin komentar gue pertama kali "emangnya gue gak mampu nyari parkir sendiri apa? mesti pake disediain segala.." atau "sori yaa.. mungkin mereka yang difabel yang lebih butuh perlakuan istimewa kayak begini..".

Intinya gue sebagai laki-laki (^_^) sama sekali bukan iri, apalagi jealous. Cuma, bukan selama ini kah perempuan yang selalu minta diperlakukan sejajar? Idiom-idiom emansipasi yang bikin kaum perempuan makin seksi dari sebelum-sebelumnya. Gue pikir, kaum perempuan mesti lebih sedikit kritis sama sesuatu yang ada disekitarnya dan menyangkut kepentingan dirinya sendiri. Kartini sendiri, seorang pejuang emansipasi itu; kalo seumpama disediain lahan parkir khusus (ladies parking) mungkin bakal nolak mentah-mentah..hehe, atau coba ambil satu contoh pengalaman temen gue yang sempet kuliah di London. Ceritanya itu dia naik Underground sepulang dari part time job-nya, pas waktu busy hour. Keadaan kereta penuh sesak, dan masuklah seorang penumpang wanita hamil yang perutnya udah cukup besar. Tangan kanan-nya nenteng kantong belanjaan plastik, sedangkan tangan kiri-nya lekat-lekat memegang clutch bag-nya. Nah, sebagai seorang gentlemen, temen gue ini bermaksud baik menawarkan tempat duduknya. tapi apa yang terjadi kemudian?

mhsw: "excuse me.. Ms, you can take my seat, please."
ibu2: "whats? so just becos i'm pregnant, you think i need your bloody seat then?" lanjutnya.
ibu2: "i don't need your's, but thanks. i would've asked if i need it"
mhsw: "yes mam, i'm sorry.." loh kok berubah jadi mam? hehe

*dari situ dia baru sadar kenapa cowok-cowok yang duduk deket ibu hamil tadi nggak nawarin duduk. Mau berniat baik ternyata nggak selalu berbuah pujian, terkadang umpatan :) hehe..

Kembali ke fenomena Ladies Parking tadi, kalo dipandang secara simbolis sendiri, maaf, spot Ladies Parking (eg. Plaza Senayan) letaknya sejajar dengan lahan parkir yang disediakan bagi mereka yang berkursi roda. Artinya ada keasamaan perlakuan disini. Sekali lagi maaf, sama sekali tanpa sebersit maksud gue mengecilkan kaum difabel. Tapi bukan kah sewajarnya jika saudara-saudara kita yang difabel, dan berkursi roda butuh perlakuan yang lebih istimewa. Bahkan, sering kali mereka yang difabel mempunyai semangat kemandirian yang melebihi kita sebagai manusia normal. Penghargaan gue yang sangat tinggi untuk saudara-saudara difabel.

Emansipasi Wanita, parkir dimana?

Bukan barang baru kalo tuntutan persamaan antara kaum perempuan dengan laki-laki disuarakan sejak lama. Seperti dalam hal pekerjaan, peran dalam politik, pendidikan, hingga keluarga. Dan hampir kesemuanya, kaum perempuan mendapatkan posisi yang lebih baik dari waktu ke waktu, bukan?. Misalnya, sekarang nggak ada lagi profesi pekerjaan yang sepenuhnya didominasi laki-laki. Mulai dari kondektur bus kota, sopir transjakarta, sampe pilot pesawat udah sama-sama diisi baik laki-laki maupun perempuan. Indonesia pernah punya presiden perempuan, bahkan Amerika belum pernah. Kursi bagi kaum perempuan baik di parlemen maupun kabinet pemerintah makin tahun makin bertambah. Pendidikan berlaku sejajar baik laki-laki maupun perempuan, Dirut pertamina; BUMN terbesar pun diduduki oleh perempuan. Tapi kenapa untuk urusan parkir dibeda-bedakan yah?

Sayang sekali kalo untuk urusan yang sederhana ini kita sendiri kurang perhatian. Sedikit pun rasa hormat gue nggak berkurang untuk kaum perempuan. Tapi, akan lebih wise kalo kesadaran ini muncul dari perempuan sendiri, bukan? tuntutan untuk persamaan dalam perlakuan akan lebih 'deligent' jika berangkat dari kaum-nya sendiri.

Coba bagaimana dengan pendapat teman-teman deh, khususnya yang perempuan, perempuan yang nyetir mobil sendiri, yang selama ini dimanjakan oleh ladies parking. (loh kok jadi ikut-ikutan eksklusif juga sih? hehe..) Oke deh, menurut lo semua gimana, kawan?

Sabtu, 04 April 2009

Melawai Masa Sekarang dan Jelajah Kuliner Jakarta


Melawai dan Sisa-sisa Kejayaan Era New Wave..
Bagi siapapun yang hidup dan besar pada masa 80-an tentu kenal betul dengan daerah Melawai, Jakarta Selatan. Karena pada masa-nya, Melawai diibaratkan sebagai 'hulu-ledak' dari simbol pergaulan anak Jakarta. Iya, memang daerah Melawai menjadi daerah primadona anak muda 80-an dalam hal pergaulan; atau jaman sekarang sering disebut dengan tempat 'eksis'. Daerah Melawai bak ajang eksistensi diri, dan akan sangat jamak ditemui sekumpulan anak muda yang sedang kumpul-kumpul sambil 'mejeng' di-depan mobilnya. Kata-kata semacam "Gile ciiing.."atau "Bo'il Baru Gua Nih.." juga akan sering kita temui.Pamor Melawai bahkan sama pentingnya dengan istilah "anak Menteng" pada medio 70-an silam.

Sejurus dengan penuturan dari cerita Om-om dan Tante-tante saya sendiri, sebagai aktor pelaku dari masa kejayaan Melawai, bahwa daerah Melawai dan sekitarnya memang dijadikan sebagai tongkrongan favorit muda-mudi 80-an untuk JJS (jalan-jalan sore). Atau, disekitaran Melawai juga dapat ditemukan pertunjukkan spontan dari anak-anak muda yang asik menari 'break dance' atau 'tari kejang' di pinggiran jalan Melawai. Pilihan musik yang menjadi playlist tetap diantaranya lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Lionel Richie, Michael Jakson, Stevie Wonder, TOTO, dan sebagainya. Anak-anak muda-nya sendiri memiliki gaya penampilan yang identik satu dengan yang lain, dan bukan anak gaul 80-an namanya kalo melewatkan item-item fashion berikut ini. Diantaranya kacamata aviator Ray Ben, celana jeans Baggy dan legging, kemeja gombrong, sepatu Adidas putih model samba, hingga head ban berwarna mencolok. So, jangan terlalu bangga dulu anak muda generasi sekarang yang merasa mereka-lah sebagai pemangku trend fashion terbaik. Untuk memudahkan gambaran kita bagaimana sosok anak muda pergaulan Melawai tahun 80-an, bisa kita mengambil film 'Catatan Si Boy' sebagai referensi utama-nya.

Kembali ke Melawai hari ini. Setelah jarak belasan tahun berselang hingga sekarang, kita akan mendapati jajaran bangunan baru berupa kantor, restoran, dan toko yang makin bertambah padat; belum lagi ditambah dengan kesemrawutan jalan raya-nya. Diluar hal itu, daerah Melawai nyaris tidak mengalami perubahan yang signifikan. Plaza Melawai sendiri yang menjadi poros utama, sama sekali tidak mengalami perubahan bentuk yang berarti. Gedungnya tampak kotor dan kusam berkarat disana-sini. Tepat didepan Plaza Melawai dihiasi deretan Bajaj dan Metro Mini yang nge-tem sembarangan untuk menunggu para calon penumpang. Sedangkan pada bagian dalam-nya, suasana Plaza Melawai yang sumpek dan panas menjadi ciri khas utama. Tempat parkir yang becek dan kurang tertata baik masih akan kita jumpai, lorong-lorong kecil yang menjadi jalur penghubung antar blok juga belum berubah, dan pedagang kaki lima menjadi pelengkap identitas Melawai sekarang.

Makan di Daerah Melawai, Dari yang Grossy Sampai Fancy..
Daya tarik Melawai saat ini, selain tempat belanja perhiasan emas dan berlian, dan fashion item 'aspal'; pastinya juga menawarkan segudang pilihan tempat makan yang berselera. Mulai dari kelas kaki lima hingga kelas internasional yang eksklusif. Daerah Melawai sendiri menjadi surga bagi para penikmat Sushi dan Sashimi. Orang bilang, belum makan Sushi beneran kalo belum makan di restoran Jepang daerah Melawai. Umumnya restoran-restoran Jepang dan Korea yang berada di kawasan Melawai sangat tertutup dan eksklusif. Tempat-tempat ini menjadi pilihan utama para ekspatriat dari daerah Asia Timur seperti Korea, Jepang, Taiwan dan China. Malah konon kabar-nya, di dalam restoran-restoran dengan pengunjung kaum terbatas di daerah Melawai ini menjadi tempat pertunjukan tarian tradisonal Jepang dilengkapi dengan para Geisha yang sebagian langsung didatangkan dari negara matahari terbit itu. Kabar terbaru yang saya dapatkan, malahan salah satu restoran Jepang disini memiliki chef ahli yang mampu mengolah dan menyajikan menu ikan Fugu yang terkenal itu, wow sensasional..!!

Bagi saya tempat favorit untuk makan di daerah Melawai adalah Bakmi GM (Gajah Mada). Sebelum muncul waralaba-nya di mal-mal seputaran Jakarta, hanya disini dan jalan Gajah Mada saja bisa kita temukan restoran bakmie yang terkenal ini. Lokasinya tepat berada diseberang Plaza Melawai, tepatnya di lantai 2 & 3 gedung itu. Dijamin, dengan dekorasi ruangan yang tidak dirubah maka nostalgia kita dengan masa kecil dulu (hehe..) akan terobati.

Ada banyak pilihan tentu saja untuk makan di daerah Melawai selain bakmie GM tadi, tapi saya tidak akan menuliskan semuanya. Sekarang mari kita beranjak ke makanan khas kaki lima di daerah Melawai. Selain pilihan Sop Kaki Sapi, Mie Ayam Bangka, sajian Ular Kobra, Chinese Food, beragam menu Soto yang semuanya terhampar dalam lapak-lapak nomaden beratap terpal; saya tertarik untuk menceritakan satu menu makanan yang sangat mungkin belum banyak orang akrab mendengar-nya, yaitu Soto Ranjau. Memakan makanan ini mengingatkan saya pada salah satu acara kuliner "Bizarre Food" di Discovery Travel & Living. Acara itu khusus meliput petualangan kuliner ke berbagai negara yang memburu makanan yang masuk kategori makanan aneh. Diantara beberapa episode yang pernah saya tonton antara lain Kalajengking Goreng Mentega dan Ular Saus Asam di Vietnam, Sate Kadal dan Biawak di China, Telur Embrio Bebek di Philipina, dan seterusnya. Walaupun Soto Ranjau yang akan saya ceritakan ini tidak se-ekstrem makanan-makanan yang diceritakan diatas.

Soto Ranjau pada dasarnya adalah Soto Ayam pada umumnya. Kuahnya sendiri bening, mengandung kaldu ayam yang tidak terlalu kental. Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada isi dari Soto-nya. Jika Soto Ayam disajikan bersama Mie bihun dan so'un dan suir-suir ayam yang teriris rapih, maka Soto Ranjau berisikan sisa proses penyuiran daging ayam yang digunakan sebelumnya untuk Soto Ayam tersebut. Seperti ceker, kepala, leher, tulang dada ayam, tulang paha atas, dan buntut ayam. Untuk sebagian orang mungkin potongan-potongan ayam diatas tadi adalah bagian yang hilang saat disajikan; tapi berlaku sebaliknya untuk hidangan Soto Ranjau.

Mengisi Perut di Pasar Mayestik..
Jika makan di daerah Melawai sudah tamat kita jelajahi, satu tempat lain yang pantang untuk dilewatkan disekitar Jakarta; yaitu Pasar Mayestik. Sebuah situs belanja yang tetap berkibar keberadaan-nya hingga sekarang. Sebelum mal-mal yang modern secara masif berjamur di Jakarta pada awal 90-an, Pasar Mayestik merupakan tempat belanja bagi orang-orang berduit di-masa-nya. Pasar Mayestik yang berlokasi di bilangan Jakarta Selatan ini terbilang sangat strategis. Pasar Mayestik dijepit oleh daerah-daerah penting Jakarta. Sebelah timur-nya adalah kawasan Kebayoran Baru yang merupakan salah satu daerah pemukiman elit di Jakarta, sebelah utara adalah daerah Simprug (juga kawasan elit) dan Senayan. Sedangkan wilayah selatan mencakup daerah Radio Dalam dan Blok M; menjadikan Pasar Mayestik sangat mudah di-akses dari mana saja. Daya tarik utama dari Pasar Mayestik adalah deretan toko bahan dengan kualitas pilihan. Memang ada Pasar Baru di daerah Kota sebagai pilihan tempat berbelanja bahan yang mayoritas dikuasai oleh pedagang keturunan India, atau Pasar Tanah Abang di daerah Jakarta Pusat. Akan tetapi, Pasar Mayestik seakan memiliki daya magis tersendiri bagi para pelanggan-nya untuk kembali datang dan datang lagi.

Sedangkan bagi saya, Mayestik adalah tempat dimana cita rasa pilihan makanan dan jajanan pasar yang hebat bisa kita temukan. Memang pilihan makanan yang ditawarkan disini sama sekali nggak asing dan mungkin mudah dijumpai di tempat lain. Tapi soal rasa, beragam makanan di Pasar Mayestik sangat pantas diadu. Jika suatu waktu punya kesempatan mampir ke Pasar Mayestik, jangan lupa untuk mampir makan di sepanjang deretan koridor Esa Genangku hingga toko sepatu Bata. Disanalah tempat jajanan terlengkap dan terenak yang ada di Jakarta. Beragam menu pilihan seperti siomay, bakso, sate ayam, sate padang, mie ayam, soto mie, dan lain-lain bisa kita temukan. Bagi Anda yang ingin membawa oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang, beragam jajanan pasar pun tersebar di segala penjuru pasar seperti kue rangi, kue pancong, kue cubit, kue tetek, kue pukis, panada, cakwe, harum manis, otak-otak, kerak telor, rujak ulek, rujak gohok, rujak serut, es cendol, es cincau, es durian, es sekoteng bandung, dan masih banyak lagi.

Memang ada berbagai tempat makanan dan jajanan lain seperti Jalan Sabang, Matraman, bioskop Megaria, Menteng Plaza, Jalan Roxy, Lapangan Blok S, Jalan Kemang, Jalan Pati Unus atau roti bakar Edi Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru, dan lain sebagainya. Tapi nuansa nostalgia yang disuguhkan Melawai dan Pasar Mayestik memiliki nilai lebih yang sulit dicarikan penggantinya. Selamat menjelajahi beragam tempat makan menarik khas yang tersebar di daerah Jakarta.. salam Mak Nyuss! ^_^

Selasa, 31 Maret 2009

" Love For A Child " by Jason Mraz



There's a picture on my kitchen wall
looks like (god) and his friends involved
There's a party getting started in the yard
There's a couple getting steamy in the car parked in the drive
Was I too young to see this with my eyes?

By the pool last night, apparently
The chemicals weren't mixed properly
You hit your head and then forgot your name
And then you woke up at the bottom by the drain
And now your altitude and memory's a shame

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I like to believe it was all about love for a child

And when the house was left in shambles
Who was there to handle all the broken bits of glass
Was it mom who put my dad out on his ass or the other way around
Well I'm far too old to care about that now

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I'd like to believe it was all about love for a child

It's kinda nice to work the floor since the divorce
I've been enjoying both my Christmases and my birthday cakes
And taking drugs and making love at far too young an age
and they never check to see my grades
What a fool I'd be to start complaining now

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I'd love to believe it's all about love for a child

It was all about love...