Saturday, 4 April 2009

Melawai Masa Sekarang dan Jelajah Kuliner Jakarta


Melawai dan Sisa-sisa Kejayaan Era New Wave..
Bagi siapapun yang hidup dan besar pada masa 80-an tentu kenal betul dengan daerah Melawai, Jakarta Selatan. Karena pada masa-nya, Melawai diibaratkan sebagai 'hulu-ledak' dari simbol pergaulan anak Jakarta. Iya, memang daerah Melawai menjadi daerah primadona anak muda 80-an dalam hal pergaulan; atau jaman sekarang sering disebut dengan tempat 'eksis'. Daerah Melawai bak ajang eksistensi diri, dan akan sangat jamak ditemui sekumpulan anak muda yang sedang kumpul-kumpul sambil 'mejeng' di-depan mobilnya. Kata-kata semacam "Gile ciiing.."atau "Bo'il Baru Gua Nih.." juga akan sering kita temui.Pamor Melawai bahkan sama pentingnya dengan istilah "anak Menteng" pada medio 70-an silam.

Sejurus dengan penuturan dari cerita Om-om dan Tante-tante saya sendiri, sebagai aktor pelaku dari masa kejayaan Melawai, bahwa daerah Melawai dan sekitarnya memang dijadikan sebagai tongkrongan favorit muda-mudi 80-an untuk JJS (jalan-jalan sore). Atau, disekitaran Melawai juga dapat ditemukan pertunjukkan spontan dari anak-anak muda yang asik menari 'break dance' atau 'tari kejang' di pinggiran jalan Melawai. Pilihan musik yang menjadi playlist tetap diantaranya lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Lionel Richie, Michael Jakson, Stevie Wonder, TOTO, dan sebagainya. Anak-anak muda-nya sendiri memiliki gaya penampilan yang identik satu dengan yang lain, dan bukan anak gaul 80-an namanya kalo melewatkan item-item fashion berikut ini. Diantaranya kacamata aviator Ray Ben, celana jeans Baggy dan legging, kemeja gombrong, sepatu Adidas putih model samba, hingga head ban berwarna mencolok. So, jangan terlalu bangga dulu anak muda generasi sekarang yang merasa mereka-lah sebagai pemangku trend fashion terbaik. Untuk memudahkan gambaran kita bagaimana sosok anak muda pergaulan Melawai tahun 80-an, bisa kita mengambil film 'Catatan Si Boy' sebagai referensi utama-nya.

Kembali ke Melawai hari ini. Setelah jarak belasan tahun berselang hingga sekarang, kita akan mendapati jajaran bangunan baru berupa kantor, restoran, dan toko yang makin bertambah padat; belum lagi ditambah dengan kesemrawutan jalan raya-nya. Diluar hal itu, daerah Melawai nyaris tidak mengalami perubahan yang signifikan. Plaza Melawai sendiri yang menjadi poros utama, sama sekali tidak mengalami perubahan bentuk yang berarti. Gedungnya tampak kotor dan kusam berkarat disana-sini. Tepat didepan Plaza Melawai dihiasi deretan Bajaj dan Metro Mini yang nge-tem sembarangan untuk menunggu para calon penumpang. Sedangkan pada bagian dalam-nya, suasana Plaza Melawai yang sumpek dan panas menjadi ciri khas utama. Tempat parkir yang becek dan kurang tertata baik masih akan kita jumpai, lorong-lorong kecil yang menjadi jalur penghubung antar blok juga belum berubah, dan pedagang kaki lima menjadi pelengkap identitas Melawai sekarang.

Makan di Daerah Melawai, Dari yang Grossy Sampai Fancy..
Daya tarik Melawai saat ini, selain tempat belanja perhiasan emas dan berlian, dan fashion item 'aspal'; pastinya juga menawarkan segudang pilihan tempat makan yang berselera. Mulai dari kelas kaki lima hingga kelas internasional yang eksklusif. Daerah Melawai sendiri menjadi surga bagi para penikmat Sushi dan Sashimi. Orang bilang, belum makan Sushi beneran kalo belum makan di restoran Jepang daerah Melawai. Umumnya restoran-restoran Jepang dan Korea yang berada di kawasan Melawai sangat tertutup dan eksklusif. Tempat-tempat ini menjadi pilihan utama para ekspatriat dari daerah Asia Timur seperti Korea, Jepang, Taiwan dan China. Malah konon kabar-nya, di dalam restoran-restoran dengan pengunjung kaum terbatas di daerah Melawai ini menjadi tempat pertunjukan tarian tradisonal Jepang dilengkapi dengan para Geisha yang sebagian langsung didatangkan dari negara matahari terbit itu. Kabar terbaru yang saya dapatkan, malahan salah satu restoran Jepang disini memiliki chef ahli yang mampu mengolah dan menyajikan menu ikan Fugu yang terkenal itu, wow sensasional..!!

Bagi saya tempat favorit untuk makan di daerah Melawai adalah Bakmi GM (Gajah Mada). Sebelum muncul waralaba-nya di mal-mal seputaran Jakarta, hanya disini dan jalan Gajah Mada saja bisa kita temukan restoran bakmie yang terkenal ini. Lokasinya tepat berada diseberang Plaza Melawai, tepatnya di lantai 2 & 3 gedung itu. Dijamin, dengan dekorasi ruangan yang tidak dirubah maka nostalgia kita dengan masa kecil dulu (hehe..) akan terobati.

Ada banyak pilihan tentu saja untuk makan di daerah Melawai selain bakmie GM tadi, tapi saya tidak akan menuliskan semuanya. Sekarang mari kita beranjak ke makanan khas kaki lima di daerah Melawai. Selain pilihan Sop Kaki Sapi, Mie Ayam Bangka, sajian Ular Kobra, Chinese Food, beragam menu Soto yang semuanya terhampar dalam lapak-lapak nomaden beratap terpal; saya tertarik untuk menceritakan satu menu makanan yang sangat mungkin belum banyak orang akrab mendengar-nya, yaitu Soto Ranjau. Memakan makanan ini mengingatkan saya pada salah satu acara kuliner "Bizarre Food" di Discovery Travel & Living. Acara itu khusus meliput petualangan kuliner ke berbagai negara yang memburu makanan yang masuk kategori makanan aneh. Diantara beberapa episode yang pernah saya tonton antara lain Kalajengking Goreng Mentega dan Ular Saus Asam di Vietnam, Sate Kadal dan Biawak di China, Telur Embrio Bebek di Philipina, dan seterusnya. Walaupun Soto Ranjau yang akan saya ceritakan ini tidak se-ekstrem makanan-makanan yang diceritakan diatas.

Soto Ranjau pada dasarnya adalah Soto Ayam pada umumnya. Kuahnya sendiri bening, mengandung kaldu ayam yang tidak terlalu kental. Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada isi dari Soto-nya. Jika Soto Ayam disajikan bersama Mie bihun dan so'un dan suir-suir ayam yang teriris rapih, maka Soto Ranjau berisikan sisa proses penyuiran daging ayam yang digunakan sebelumnya untuk Soto Ayam tersebut. Seperti ceker, kepala, leher, tulang dada ayam, tulang paha atas, dan buntut ayam. Untuk sebagian orang mungkin potongan-potongan ayam diatas tadi adalah bagian yang hilang saat disajikan; tapi berlaku sebaliknya untuk hidangan Soto Ranjau.

Mengisi Perut di Pasar Mayestik..
Jika makan di daerah Melawai sudah tamat kita jelajahi, satu tempat lain yang pantang untuk dilewatkan disekitar Jakarta; yaitu Pasar Mayestik. Sebuah situs belanja yang tetap berkibar keberadaan-nya hingga sekarang. Sebelum mal-mal yang modern secara masif berjamur di Jakarta pada awal 90-an, Pasar Mayestik merupakan tempat belanja bagi orang-orang berduit di-masa-nya. Pasar Mayestik yang berlokasi di bilangan Jakarta Selatan ini terbilang sangat strategis. Pasar Mayestik dijepit oleh daerah-daerah penting Jakarta. Sebelah timur-nya adalah kawasan Kebayoran Baru yang merupakan salah satu daerah pemukiman elit di Jakarta, sebelah utara adalah daerah Simprug (juga kawasan elit) dan Senayan. Sedangkan wilayah selatan mencakup daerah Radio Dalam dan Blok M; menjadikan Pasar Mayestik sangat mudah di-akses dari mana saja. Daya tarik utama dari Pasar Mayestik adalah deretan toko bahan dengan kualitas pilihan. Memang ada Pasar Baru di daerah Kota sebagai pilihan tempat berbelanja bahan yang mayoritas dikuasai oleh pedagang keturunan India, atau Pasar Tanah Abang di daerah Jakarta Pusat. Akan tetapi, Pasar Mayestik seakan memiliki daya magis tersendiri bagi para pelanggan-nya untuk kembali datang dan datang lagi.

Sedangkan bagi saya, Mayestik adalah tempat dimana cita rasa pilihan makanan dan jajanan pasar yang hebat bisa kita temukan. Memang pilihan makanan yang ditawarkan disini sama sekali nggak asing dan mungkin mudah dijumpai di tempat lain. Tapi soal rasa, beragam makanan di Pasar Mayestik sangat pantas diadu. Jika suatu waktu punya kesempatan mampir ke Pasar Mayestik, jangan lupa untuk mampir makan di sepanjang deretan koridor Esa Genangku hingga toko sepatu Bata. Disanalah tempat jajanan terlengkap dan terenak yang ada di Jakarta. Beragam menu pilihan seperti siomay, bakso, sate ayam, sate padang, mie ayam, soto mie, dan lain-lain bisa kita temukan. Bagi Anda yang ingin membawa oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang, beragam jajanan pasar pun tersebar di segala penjuru pasar seperti kue rangi, kue pancong, kue cubit, kue tetek, kue pukis, panada, cakwe, harum manis, otak-otak, kerak telor, rujak ulek, rujak gohok, rujak serut, es cendol, es cincau, es durian, es sekoteng bandung, dan masih banyak lagi.

Memang ada berbagai tempat makanan dan jajanan lain seperti Jalan Sabang, Matraman, bioskop Megaria, Menteng Plaza, Jalan Roxy, Lapangan Blok S, Jalan Kemang, Jalan Pati Unus atau roti bakar Edi Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru, dan lain sebagainya. Tapi nuansa nostalgia yang disuguhkan Melawai dan Pasar Mayestik memiliki nilai lebih yang sulit dicarikan penggantinya. Selamat menjelajahi beragam tempat makan menarik khas yang tersebar di daerah Jakarta.. salam Mak Nyuss! ^_^

Tuesday, 31 March 2009

" Love For A Child " by Jason Mraz



There's a picture on my kitchen wall
looks like (god) and his friends involved
There's a party getting started in the yard
There's a couple getting steamy in the car parked in the drive
Was I too young to see this with my eyes?

By the pool last night, apparently
The chemicals weren't mixed properly
You hit your head and then forgot your name
And then you woke up at the bottom by the drain
And now your altitude and memory's a shame

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I like to believe it was all about love for a child

And when the house was left in shambles
Who was there to handle all the broken bits of glass
Was it mom who put my dad out on his ass or the other way around
Well I'm far too old to care about that now

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I'd like to believe it was all about love for a child

It's kinda nice to work the floor since the divorce
I've been enjoying both my Christmases and my birthday cakes
And taking drugs and making love at far too young an age
and they never check to see my grades
What a fool I'd be to start complaining now

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I'd love to believe it's all about love for a child

It was all about love...

Monday, 30 March 2009

Nukilan Cerita Dari Bandara Soe-tta Part. II

Jam ditangan baru menunjukkan pukul 3.23 dini hari, artinya penantian saya masih cukup lama. Kepul asap dari dalam mangkok instan Pop Mi, menyebarkan aroma kaldu yang menyegarkan sekaligus mengundang selera tentu saja. Duduk disebelah saya, seorang pria berumur sekitar 40 tahunan sambil mengisap rokoknya yang baru setengah jalan. Dari tas jinjing yang dibawa saya kira si Bapak adalah salah satu penumpang pesawat. Tapi kenapa jam segini masih nongkrong disini. Saya coba membuka obrolan, dengan nada seakrab mungkin :
T : "Pak, baru mendarat apa mau berangkat..?"
J : "Iya dua-duanya laah.. hehe"
T : "Loh, kok saya jadi bingung. Emang Bapak dari mana dan mau kemana?"
J : "Dari Papua, mau ke Medan"
T : "Oh.. Jadi Bapak transit di Cengkareng?"
J : "Iya.. Betul itu"
T : "Di Papua Bapak di kota mana? Bapak kerja disana?"
J : "Saya di Timika.. Iya betul kerja, di Freeport"
T : "Wah.. Hebat sekali Pak"
J : "Iya, yang hebat Freeport-nya..hehe Saya cuma kerja di bagian catering-nya saja"
Dan obrolan pun terus mengalir dengan cair..

Antara lain kehidupan didalam pabrik, keluarga yang diboyong Bapak ini ke Papua, kehidupan masyarakat asli, dan seterusnya. Bahagia saya karena banyak informasi yang selama ini saya terima seputar Freeport ternyata tidak sepenuhnya benar. Seperti hasil galian yang banyak orang bilang Freeport menambang emas ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena, ternyata sesuai penuturan Bapak ini presentase penambangan Freeport adalah emas yang ditambang hanya sebesar 15% saja; sedangkan sisanya adalah tembaga. Tentu saja nilai tembaga dengan emas berbeda. Kemudian soal pengelolaan Freeport sendiri bukan ada di tangan Amerika Serikat (AS) sebagaimana yang selama ini saya tau. Nama Freeport sendiri sudah berubah dari Freeport-McMorran sekarang telah berganti menjadi Freeport Indonesia. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh peran Negara Indonesia dalam hal pengelolaan yang lebih besar dari sebelumnya. Hal itu juga ditandai dengan para tenaga ahli luar negeri yang saat ini sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Sudah banyak tenaga ahli dalam negeri yang mampu mengurusi operasional pertambangan PT. Freeport Indonesia tersebut. Tapi memang pengelolaan dan keuntungan belum sepenuhnya diambil oleh negara, karena pemerintah sendiri lebih memilih menarik rekanan-rekanan untuk mengurusi operasional tambang.

Lebih jauh, Bapak tadi juga menceritakan beberapa fasilitas yang dia terima selama bekerja di tambang sejak tahun 1998. Seperti sarana tempat tinggal yang disediakan, sarana pendidikan, kesehatan, dan rekreasi; yang kesemuanya ditanggung oleh pihak perusahaan. Seperti urusan pendidikan, biaya sudah ditanggung oleh pihak Freeport sepenuhnya kepada anak usia sekolah hingga anak para pekerja tambang lulus jenjang wajib belajar 9 tahun. Memang sudah semestinya seluruh perusahaan di Indonesia melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh Freeport kepada para pekerjanya. Tentu kehidupan Sosial-ekonomi masyarakat akan terbantu. Semoga saja, tapi tidak pernah tau kapan hal itu bisa terwujud.

Setelah Pop Mi saya habis begitu juga dengan batang rokok yang saya matikan, saya beranjak dari tempat tadi setelah bersalaman dengan si Bapak sambil mengucapkan selamat jalan. Saya kembali perhatikan jam di tangan, jam 4 kurang 10 menit. Di KFC saya mulai membuka laptop dan mulai blogging dan browsing ini itu.

Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan jam 5.10 pagi. Acara internet saya cukupkan sampai disini, dan naik ke lantai atas untuk sholat subuh. Ternyata, keanehan saya dengan bandara yang kita banggakan ini belum juga selesai. Apalagi kalo bukan soal musholla yang mengecewakan? Coba aja Anda bayangkan sendiri, masak musholla kelas bandara internasional kualitasnya kalah jauh dibandingkan musholla-nya mal-mal di Jakarta; sebut aja Plaza Senayan atau Senayan City sebagai perbandingan. Musholla bandara, udah mana sempit, becek, dan sangat menganut azas 'seadanya'. Dan yang paling menggangu adalah shaf yang disediakan untuk perempuan berada di perlintasan orang masuk yang menuju tempat mengambil wudhlu laki-laki dan perempuan? Bayangkan juga gimana semrawutnya, menyedihkan sekali bagi saya, karena potensi perempuan yang batal wudhlu-nya akan semakin besar karena harus bersentuhan dengan laki-laki yang baru masuk atau yang menuju keluar. Hal ini tentu mesti menjadi perhatian penting bagi pengelola bandara, jangan hanya mengaharapkan pemasukan yang besar dari seluruh aktivitas para konsumen penerbangan yang sudah harus membayar bukan dengan jumlah yang sedikit. Komentar saya belum termasuk keadaan toilet yang sangat jauh dari standar rata-rata toilet umumnya di bandara-bandara negara lain, bukan kah seharusnya pemerintah kita malu? Maka itu, jangan mangkel jika jumlah kunjungan wisata Malaysia jauh lebih besar dibandingkan dengan negara kita. Malahan sekarang Malaysia sudah berhasil menjadikan sektor pariwisatanya sebagai primadona sumber pemasukan negara, karena concern-nya yang sangat besar dalam hal melengkapi segala infrastruktur mulai dari bandara hingga segala fasilitas pelengkap lainnya.

Jam 5.50 saya sudah berdiri manis di area penjemputan bersama dengan sanak-keluarga lain, yang mungkin juga sedang menantikan anggota keluarga yang baru tiba dari berpergian; sama sepertinya saya sekarang ini. Dari suara pengeras, terdengar seorang wanita menginformasikan dalam 2 bahasa, Inggris dan Indonesia, bahwa penerbangan GA 981 sudah mendarat.. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada 4WI karena keluarga diberikan keselamatan selama perjalanan umroh ini. Pukul 6.20 saya sudah melambaikan tangan kepada keluarga yang tampak dikejauhan. Rombongan disambut oleh perusahaan travel Cordova sebagai pelaksana dan penanggung jawab perjalan ini, kami sekeluarga berpeluk cium melepaskan kerinduan setelah berpisah selama 5 hari kemarin. Setelah sekitar 15 menit kami menunggu di hotel transit bandara sambil menyantap hidangan ringan, proses pengurusan bagasi telah selesai. Pada kesempatan sarapan ini juga saya baru mengetahui duduk perkara arrival schedule yang mundur hingga 3 jam. Hal ini disebabkan keperluan transit di Riyadh untuk pengisian Avtur, sedangkan keluarga saya mengabarkan jadwal kedatangan jam 3 pagi, karena memang ETA yang tertera dalam tiket Garuda Indonesia yang dipegang menunjukkan waktu itu; wah pantesan regulator penerbangan Eropa nge-banned GA lalu lalang diatas wilayahnya, nah urusan kecil begini aja kadang masih luput dari perhatian. Akhirnya, kami sekeluarga akhirnya pulang setelah saling bersalaman-salaman dan saling mendoakan dengan sesama jamaah umroh lainnya.

Alhamdulillah perjalanan umroh keluarga saya dilancarkan mulai dari berangkat hingga kembali pulang ke tanah air. Selain itu, saya juga mendapat tambahan kebahagiaan dengan pengalaman yang saya dapat selam proses menunggu tadi..

Salam!

Nukilan Cerita Dari Bandara Soe-tta


Pepatah Inggris benar adanya..
Minggu (29/3) pesan singkat sampai di ponsel saya, kira-kira isinya seperti ini "Haris, jgn lupa jemput di airport Terminal 2E GA 981 (Jeddah) jam 3 pagi..". Saya sempat keget, diluar perkiraan karena estimasi saya umroh yang dilakukan keluarga akan memakan waktu sekitar 6-7 hari. Padahal, keluarga sendiri berangkat dari Jakarta baru hari Kamis (26/3) berarti umroh ini cukup makan waktu 5 hari saja, termasuk lama perjalanan Jeddah-Jakarta. Oke, pikir saya informasi suduh cukup jelas hingga tak perlu cek ulang arrival schedule Garuda Indonesia via online. Singkat cerita, berangkatlah saya dari rumah di bilangan BSD City pukul 2 pagi kurang 5 menit. Hanya butuh 30 menit aja waktu perjalanan dan saya sudah beres parkir kendaraan di Terminal 2 bandara area E6, tepatnya didepan jalur pick-up point kedatangan.

Kecurigaan saya mulai timbul ketika Gate 2E kok sepi-sepi aja, coba bandingkan Gate 2D yang dipenuhi para keluarga penjemput. Hati saya bergumam, dimanakah letak kesalahannya? Informasi yang saya terima, intrepetasi saya atas informasi atau ada hal yang lain? Coba-coba saya gali informasi lebih dalam. Karena setelah saya perhatikan arrival board pada layar LCD, ternyata ETA (estimation time arrival) GA 981 tercantum 06:05. Beda dengan pesan SMS yang saya terima dari keluarga yang tertera jam 3 pagi. Bingung punya bingung, saya hampiri information center Gate 2E. Loh, kok yaa bisa-bisanya information desk-nya kosongan? Orang butuh informasi kan ya ndak pake pilih-pilih waktu. Masak akhirnya keterangan soal simpang siur jadwal arrival plane akhirnya saya dapatkan dari seorang Bapak cleaning service bandara sih, tanpa maksud sedikitpun mengecilkan peran Bapak tadi loh. Cuman hal ini kan berhubungan dengan aksesibilitas information center bandara Soekarno-Hatta dengan cap tebal sebagai Bandara Internasional milik negara.

Jadilah niat baik saya untuk datang lebih awal dari semestinya tidak berbuah manis sebagaimana orang tua dulu selalu menasehati "kalo punya janji datanglah lebih awal, karena menunggu itu lebih baik daripada ditunggu..". Sebaliknya saya juga jadi teringat pepatah orang Inggris yang mengatakan "datang lebih awal dari janji yang kita buat, sama buruknya dengan datang terlambat..". Kalo dipikir-pikir lagi ternyata pepatah kedua ada benarnya juga, saya membatin. Itulah inti dari konsep on time, yang menempatkan waktu sebagai suatu hal yang sangat berharga sekaligus mahal harganya. Buat apa waktu kita buang percuma hanya untuk datang lebih awal dan menunggu, apalagi jika kasusnya kita yang datang terlambat dalam suatu appointment; karena jika kita melakukan hal yang kedua ini kita sudah melakukan 2 dosa secara bersamaan, yaitu kesatu kita akan membuang waktu dan kesempatan kita sendiri; dan yang lebih parah lagi kita membuang waktu orang lain karena keterlambatan yang kita lakukan. Hal ini penting menurut saya untuk dipikirkan, karena pepatah sendiri mencerminkan watak dari kultur manusia yang menciptakan pepatah itu, bukan?

Catatan Cerita Dari Bandara
Kesalahan saya yang datang jauh-jauh hari memang terkesan merugikan, namun tidak ingin saya larut dalam kekesalan ini. Untung aja, khas orang kita walaupun keadaan kurang menyenangkan bagaimanapun kita sering kali masih menyelipkan kata 'untung' hehe.. untung sebelum berangkat tadi, saya selipkan Laptop dalam tas kecil saya; jadi sambil mengisi kekosongan ini saya bisa sambil nge-blog dan update Facebook untuk sekedar killing time sampai pagi mulai terang. Hal pertama yang saya pikirkan adalah tempat! Mau nongkrong dimana nih.. apalagi batere laptop cuma tersisa 46% dan pasti gak akan cukup buat durasi pemakaian 3 jam kedepan. Berbeda sekali dengan pengalaman saya pada satu kesempatan di akhir tahun kemarin, pada saat saya harus menanti 2 jam keberangkatan dari Changi Airport Singapura. Ketika itu, waktu 2 jam terasa sangat singkat tanpa terasa. Bagaimana nggak? segala fasilitas lengkap disediakan di Changi, seperti beberapa booth Nintendo X-Box bagi para gamers yang masing-masing dilengkapi 5 unit beserta HDTV berukuran besar, arena kids sports yang bersih dan lengkap, stand makanan yang jumlahnya sangat banyak, akses internet cepat yang jumlahnya hingga puluhan unit diseluruh penjuru airport, bahkan ruang tunggu penumpang menjadi satu dengan mall, dan segala macam fasilitas lain yang sangat memanjakan konsumen penerbangan; sangat menyenangkan.

Anyway akhirnya pilihan saya jatuh pada stand KFC yang memang kebetulan tempatnya persis didepan Gate 2E dimana saya harus stand by. Tapi sebelumnya biar acara nge-blog saya makin afdol, saya mesti sedia dulu logistik rokok yang sekarang cuma tersisa 4 batang dikantong. Celingak-celinguk ke kiri ke kanan toko-toko udah pada tutup, payah! Gak mungkin lah saya mesti keluar kompleks bandara untuk hal ini dong. Ikhtiar saya akhirnya terjawab. Tepat dibawah patung ukiran suku Asmat yang ukurannya lebih mirip tugu letaknya di areal parkir bandara, lamat-lamat saya lihat cahaya lampu minyak berpendar dan ada sekitar 5-6 orang berkumpul sambil duduk-duduk lesehan. Pikir saya ngapain nih orang pada kumpul ditempat remang-remang macam begitu? Nah, ternyata dari tumpukan Pop Mie tersusun rapi 2 tingkat yang digelar seorang penjual saya baru sadar kalo disitu ada tempat jualan, kok bisa yah? Di bandara ternyata ada juga PKL-nya. Tapi saya ngga ambil pusing, dan saya hampiri aja tempat itu dan ternyata benar ibu-ibu yang menjual aneka gorengan dan kopi seduh itu ternyata juga menyediakan beragam pilihan merk rokok.

Satu sifat buruk saya yang sok suka kepengen tau segala macem dan memang hobi nanya-nanya; jadi langsung aja saya tanya sekalian ke ibu-ibu penjualnya itu. Dan kira-kira begini isi obrolan saya :
T : ''Bu, beli rokoknya Bu.. Sampurna mil ada?"
J : "Ada.. mau beli berapa bungkus de..?"
T : "Yah sebungkus aja lah.."
J : "Eh iya, maksudnya itu.. nih" sambil memberikan bungkus rokok.
T : "Ngomong-ngomong boleh Ibu jualan disini?"
J : "Ya, boleh ngga boleh juga sih.. asal uang keamanannya beres mah ya boleh"
T : "Jadi ibu jualan disini bayar"
J : "Ya iyalah.. kalo ngga mana bisa?"
T : "Ohh begitu.. kalo gitu saya tolong dibuatin Pop Mi-nya sekalian ya Bu"
T : "Jadi semuanya berapa Bu?"
J : "Jadi 15 ribu"
T : "Ini Bu, pas.. makasih ya"
J : "Iya, sama-sama.."

Jadi ternyata entah resmi atau ngga resmi, pedagang PKL diizinkan juga berjualan didalam kompleks bandara sepanjang 'uang keamanan' dibayarkan oleh para penjualnya. Saya coba melihat dari segi ketertiban umum dan keindahan, tentu hal ini cukup mengganggu ketertiban bandara. Karena bagaimana pun bandara kan gerbang masuk negara, terutama yang berasal dari mancanegara. Bukan maksud hati untuk 'JAIM' dari bangsa lain, tapi image sebagai bangsa yang tertib itu ya penting juga toh. Analoginya, kalo dari pagar rumahnya aja udah ngga tertib; gimana daleman-nya coba? Bukan kepengen saya menggusur lahan rejeki orang seperti ibu-ibu tadi, toh saya yang butuh rokok pun dimudahkan dengan keberadaan penjual seperti ini. Tapi, apa bukan sebaiknya kalau para pedagang ini difasilitasi dengan baik? Selain bandara akan terlihat lebih tertib, tentu dapat menjadi potensi pemasukan yang riil juga bagi negara toh? Bukan jadi lahan untung sebagain kecil orang aja yang merasa berhak mendapat bagian lewat retribusi liar berlabel 'uang keamanan' tadi.

Jam ditangan baru menunjukkan pukul 3.23 dini hari, artinya penantian saya masih cukup lama. Kepul asap dari dalam mangkok instan Pop Mi, menyebarkan aroma kaldu yang menyegarkan sekaligus mengundang selera tentu saja. Duduk disebelah saya, seorang pria berumur sekitar 40 tahunan sambil mengisap rokoknya yang baru setengah jalan. Dari tas jinjing yang dibawa saya kira si Bapak adalah salah satu penumpang pesawat. Tapi kenapa jam segini masih nongkrong disini. Saya coba membuka obrolan, dengan nada seakrab mungkin :
T : "Pak, baru mendarat apa mau berangkat..?"
J : "Iya dua-duanya laah.. hehe"
T : "Loh, kok saya jadi bingung. Emang Bapak dari mana dan mau kemana?"
J : "Dari Papua, mau ke Medan"

..to be continued..