Monday, 27 October 2008

Menteri paling Miskin di Indonesia adalah.. (shipment)

Baru semalam saya melihat iklan TV persembahan Departemen Pertanian di Trans 7. Tentu sang pimpinan departemen ikutan muncul juga didalamnya. Layaknya iklan yang berasal dari kantor kementrian, isinya pasti seputar prestasi yang berhasil diraih selama menjabat. Misalnya iklan Mennegpora, meng-highlight prestasi olahraga yang berhasil diraih selama dirinya menjabat di pemerintahan SBY-JK, seperti tradisi emas olimpiade, bla bla bla. Tentu Adyaksa Dault ambil peran dominan selama durasi iklan berjalan. Nggak beda-beda jauh iklan dari Menteri Kesehatan, Fadillah Supari. Prestasinya merubah ''penjajahan negara maju'' dalam hal kesehatan di dunia masih jadi headline utama-nya.

Tapi selain prestasi tentu ada juga catatan-catatan penting yang harus diwarnai merah. Misalnya, prestasi bulutangkis yang belum mampu membawa pulang piala Thomas dan Uber ke bumi pertiwi, piala Sudirman, dan beberapa gelar lainnya. Atau, masih ada berapa banyak orang yang kurang beruntung dan masih sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Obat masih mahal, darah donor yang masih susah, buruknya standar kesehatan karena peredaran bahan-bahan yang buruk bagi tubuh tersebar luas di masyarakat.

Sebuah tulisan yang saya terima dan baca sepertinya bagus untuk kita perhatikan dan teladani. Adalah Menteri Pertanian, Anton Apriyanto yang memiliki kehidupan yang berbeda dibandingkan kolega-koleganya di kabinet Indonesia Bersatu. Dengan background "orang kampus" makin melegitimasi bahwa memang latar belakang sang Menteri lebih 'aman' dibandingkan saudagar, jenderal, politisi, atau pengusaha sekalipun.

Untuk dapat kita baca, Mas Ridlwan Habib menyusunkannya dengan sangat baik sekali. Tulisan ini jadi renungan buat saya pribadi, moga-moga juga buat teman-teman yang sempat membacanya sekarang. Selamat membaca.

Ke Daerah, dengan Tiket Ekonomi, Nginap di Rumah Petani. Di Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono dijuluki sebagai menteri termiskin. Sebab, berdasar laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), total kekayaannya "hanya" Rp 388.936 juta. Bagaimana kesehariannya?

Bikin janji untuk bertemu Anton Apriantono tidak terlalu sulit. Di antara menteri yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu, pria yang lama menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu termasuk yang paling mudah dihubungi melalui ponselnya.

Kemarin sore, Jawa Pos diberi kesempatan bertamu di rumah Anton di kompleks perumahan dinas para menteri, tepatnya di Jl Widya Chandra V. Begitu masuk ke halaman rumahnya, seorang petugas keamanan dengan tulisan nama Sukim di dadanya ramah mempersilakan masuk. "Cari Bapak ya, silakan langsung saja ke ruang tamu," ujarnya.

Halaman depan rumah dinas Anton tampak bersih. Aneka tanaman hias disusun rapi dalam pot yang berisi tanah liat. Tidak ada tanaman perindang besar, kecuali sebuah palem kipas yang ditanam di pojok pagar. Berbeda dari rumah menteri lainnya, di garasi rumah Anton, hanya ada dua mobil yang diparkir. Yakni, Kijang abu-abu keluaran 1994 dan mobil dinas menteri Toyota Camry bernomor RI 24. Pemandangan tersebut berbeda dari rumah dinas menteri-menteri lain yang, selain berisi mobil dinas, terdapat beberapa mobil lain keluaran terbaru.

"Assalamu 'alaikum, apa kabar?" kata Anton ramah yang muncul dari ruang tengah. Pria kelahiran 5 Oktober 1959 tersebut muncul dengan kemeja lengan panjang bercorak garis-garis. "Hari ini banyak tamu. Maklum, masih suasana Idul Fitri," ujarnya.

Dia menceritakan, selama Lebaran, keluarganya lebih banyak berada di Jakarta. Hanya hari pertama keluarganya berkunjung ke Serang dan Bogor, Jawa Barat. Pada awal pembicaraan, dia lebih banyak menceritakan tentang kesibukannya sebagai menteri, sehingga waktu untuk keluarga berkurang. "Karena itu, setiap di rumah, saya manfaatkan betul untuk keluarga. Rasanya sih mereka tidak pernah mengeluh," ungkapnya.

Sejak menjadi menteri, Anton memboyong keluarganya tinggal di rumah dinas. Rumahnya di Bogor dibiarkan kosong. Di tengah mengobrol dengan Jawa Pos, putri tunggalnya, Sri Rahayu, masuk membawa secangkir teh. "Silakan diminum. Kebetulan, saat ini saya sedang puasa Syawal," kata menteri yang diusulkan dari partai yang lahir pada masa reformasi itu.

Ketika disinggung seputar kekayaannya berdasar LHKPN dan diumumkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia hanya tersenyum. "Saya bersyukur dianggap begitu (disebut menteri termiskin). Pokoknya, kalau dibandingkan menteri lain, nggak mungkin bisa ngejar, apalagi sama Pak Ical (Menko Kesra Aburizal Bakrie yang dijuluki sebagai menteri terkaya dalam kabinet SBY, Red)," ujarnya lantas tertawa.

Dia menjelaskan, sejak menjadi dosen dan kepala laboratorium di IPB, Anton terbiasa menabung. Hasilnya, dia mampu membeli aset berupa tanah di Bogor. Kegemaran berhemat itu diteruskan sampai sekarang. "Sebagian berasal dari gaji dan uang perjalanan ke luar negeri. Itu pun sudah berlebih," tegasnya.

Suami Rossi Rozzana tersebut mengaku, kehidupannya saat masih menjadi dosen sudah cukup. "Apalagi sekarang, apa sih yang mau kita kejar? Makan saja tak lebih dari sepiring," katanya.

Sebagai menteri, dia mengaku digaji Rp 19 juta per bulan. Selain dari gaji, pendapatan Anton diperoleh dari honor menjadi narasumber di seminar. Sebelum menjadi menteri, dia memang sering diundang sebagai ahli di bidang kimia pangan. "Tapi, honorarium dari seminar biasanya dikelola staf," jelasnya.

Menurut doktor lulusan University of Reading, Inggris, tersebut, kunci perbaikan departemen yang dipimpinnya bermula dari diri sendiri. "Kalau pemimpin tak bisa jadi uswah (teladan, Red), jangan berharap anak buah mengikuti," ujarnya.

Anton lantas mencontohkan saat dirinya melakukan perjalanan dinas ke daerah menggunakan pesawat. Dia tidak pernah mau naik kelas bisnis. Dia selalu minta diberi tiket ekonomi. Demikian pula ketika harus menginap di suatu daerah. Anton tidak pernah mau diinapkan di hotel berbintang lebih dari tiga. "Kalau menterinya (pakai) ekonomi, anak buahnya nggak ada yang berani (di kelas) bisnis," ungkapnya lantas tersenyum.

Menurut dia, budaya Orde Baru, yakni daerah harus selalu menyambut pejabat pusat dengan servis VVIP, harus dikikis habis. "Saya lebih suka menginap dirumah petani daripada di hotel. Mereka itu orang yang apa adanya. Tidak ada yang dibuat-buat, " tegasnya.

Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika menginap di rumah salah seorang petani di Karawang. "Saat itu, atap rumahnya sudah mau roboh," katanya seraya tersenyum lebar. Anton mengaku, saat ini dirinya sedang memperjuangkan budaya keterbukaan di departemen yang dipimpinnya. Salah satu contohnya, nomor HP-nya terbuka bagi seluruh anak buahnya. Termasuk, pegawai dan penyuluh lapangan di daerah. "Dari mereka, saya bisa tahu keluhan di lapangan. Termasuk, jika ada laporan korupsi, langsung saya minta ditindaklanjuti oleh Irjen (inspektorat jenderal, Red)," jelasnya.

Dia juga sering mengajak anak buahnya outbound (training di alam). "Kalau di alam, perilaku aslinya terlihat," ujarnya. Dua minggu sekali, dia menggelar rapat pimpinan yang diakhiri dengan masing-masing saling memberi nasihat. "Jadi, kalau tidak sesuai dengan yang diomongkan, orangnya malu," katanya.

Kesederhanaan tersebut Anton diakui sekretaris pribadinya, Dr Abdul Munif . "Saya sampai malu karena bapak sering ngotot pakai kelas ekonomi saat kunjungan ke daerah. Kadang-kadang, sampai saya akali dengan mengatakan tiket ekonomi sudah habis," ungkapnya.

Alumnus Bonn University, Jerman, yang mendampingi Anton sejak sebelum menjadi menteri itu mengaku, hal tersebut dilakukan untuk menjaga kehormatan Anton sebagai menteri. "Itu kalau kebetulan sedang bersama menteri lain atau ada tamu dari luar negeri. Kalau berangkat sendiri, hampir selalu ekonomi,"jelasnya.

Saat mengunjungi daerah, Munif mengaku banyak pejabat dan bupati yang heran mengetahui kebiasaan Anton. "Awalnya, mereka (bupati dan pejabat daerah) heran. Tapi, dua tahun ini sudah biasa. Mereka malah berterima kasih," ujarnya.

Dia menyatakan, satu hal yang paling berkesan adalah perhatian Anton kepada anak buah. Di antaranya, Anton selalu mengingat nama dan kebiasaan-kebiasaan kecil stafnya. "Beliau tak risi mengirimkan ucapan selamat ulang tahun atau memberikan bantuan ketika ada yang punya gawe," ungkapnya.

Tuesday, 7 October 2008

Antara Ngobrol dengan Social Intimacy (Vol. one)




Suatu artikel dalam majalah (saya pun lupa namanya) yang bisa gratis kita bawa pulang dari kafe atau resto disekitar Jakarta, lumayan menyenggol pikiran saya. Dalam artikel tadi, baru-baru ini dilakukan survey kepada ratusan ribu orang yang tinggal dan bermukim permanen di kota-kota besar diseluruh dunia, mulai dari New York, London, Paris, Tokyo, Amsterdam, Roma, dan seterusnya. Sejauh saya tahu, kota-kota lokasi riset dilakukan itu adalah tempat-tempat impian untuk bisa dijadikan tempat tinggal, tidak terkecuali saya sendiri. Eiitz.. tapi tunggu dulu, rumput tetangga belum tentu lebih subur walaupun warnanya lebih hijau dibandingkan pekarangan rumah kita sendiri. Apa pasal? riset tersebut mengambil satu tema besar, menyoal kenyamanan seseorang untuk bisa tinggal secara benar-benar settled dan bahagia lahir dan batin disuatu kota. Ternyata yang cukup mengagetkan saya, kota-kota besar macam New York, London, atau Tokyo menempati lima besar untuk kota yang paling tidak nyaman huni (setidaknya hasil riset menunjukkan hasil itu), dan kota London dianugerahi sebagai juaranya.

Tidak nyaman huni disini bukan dalam konteks keterbatasan infrastruktur macam transportasi, kesehatan, maupun pendidikan. Kalo urusan beginian mah apa kabar negara kita sendiri, apa kabar Jakarta?! Diluar itu semua, 'ketidaknyamanan' mereka lebih pada kenyamanan yang bersifat batiniyah, kenyamanan perasaan, persaudaraan, dan solidaritas dalam konteks kemasyarakatan (sosial). Kok bisa? Ya bisa-bisa aja, survey tadi menyebutkan warga London dan kota lain ironisnya mengalami kesepian, tekanan psikis, dan takut mati seorang diri (tanpa didampingi keluarga atau orang-orang terkasih lainnya). Khusus untuk London, New York, dan Madrid kecemasan akan serangan teroris yang pernah terjadi masih sangat jelas membekas, dan kekhawatiran untuk kembali terulang masih cukup besar.

Kalau boleh diperhatikan lebih jauh, memang banyak negara-negara maju yang memiliki kualitas hidup yang relatif lebih baik, dengan indikasi usia harapan hidup yang lebih panjang atau rata-rata 75 tahun bagi laki-laki, dan 80 tahun untuk perempuan. Sayang hal ini nggak diimbangi sama sekali dengan pertambahan jumlah bayi yang lahir, seperti contohnya di Jerman angka kelahiran hingga dibawah 0% hingga minus. Belum lagi para lansia yang hidupnya cukup panjang tadi, umumnya mereka akan hidup sebatang kara tanpa anak atau keluarga lain yang mengurus segala keperluan hidupnya. Memang pemerintah Jerman secara penuh memenuhi kebutuhan mereka, mulai dari tempat tinggal, pakaian, makanan, hiburan, liburan, dan lain-lain. Tapi apakah keperluan lahiriyah sudah cukup menjamin kebahagiaan seseorang, ternyata terbukti tidak. Ada kebutuhan lain sebatas kecukupan lahiriyah. Nah. lantas apa hubungannya fenomena ini dengan hasil riset yang disampaikan sebelumnya?

Tentu ada hubungannya, dua-duanya sama-sama membuktikan kalo hal-hal materiil yang banyak dari kita mati-matian mengejarnya siang-malam, hampir nggak ada artinya kalo kebutuhan psikis nggak terpenuhi dengan baik. Dalam satu buku saya pernah baca, William Isaac Thomas (sosiolog dan psikolog sosial) bahwa ada 4 hal yang harus dipenuhi dalam hidup seseorang untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati. Diantaranya, rasa untuk dicintai, kebutuhan akan pengalaman, rasa untuk merasa aman, dan rasa untuk dihargai (secara verbal dan simbolis). Dan semua kebutuhan psikis mendasar ini, hanya bisa dipenuhi lewat hubungan interaksi dengan orang lain (sosial interaction).

Bolehlah dengan materi, uang yang banyak, jabatan tinggi, atau tanah ratusan hektar bisa jadi sarana untuk mencapai kebahagiaan; tapi manusia sendiri ada batasnya, bukan? Apa artinya kekayaan yang berlimpah kalo hanya dinikmati sendiri? Mungkin teman-teman yang membaca bergumam " iya.. saya menikmatinya bersama-sama keluarga saya, membahagiakan keluarga saya ". Pertanyaannya, jika seluruh keluarga sudah kebagian kebahagian dari Anda tadi dan masih ada sisa banyak, mau dibawa kemana lagi sisa harta sebanyak itu? Bukankah manusia ada batasnya?

Sekarang coba kita pikir-pikir lagi, kalo boleh pinjam dialognya pak Harfan di film Laskar Pelangi "Sebaik-baiknya orang itu yang paling banyak memberi, bukan yang sebanyak-banyaknya menerima...". Nah, sudah berapa banyak yang sudah kita buat untuk manfaat orang banyak? Kalo saya sih masih payah banget untuk urusan yang beginian. Kalo ngga dipotong sama Ibu dari hasil gaji bulanan yang saya setor, yaa ngga mungkin inget sama zakat penghasilan yang mesti diambil 2,5% dari rezeki kita.

Atau boleh juga kita pikir, berapa banyak dari kita yang masih menambah jumlah teman di usia sekarang dan terus melanjutkan hubungan itu dengan baik? Saya pikir sangat sedikit kita menambah teman, atau sangat jarang dari perkenalan itu terus dijaga kelanjutan hubungannya. Walaupun dimudahkan melalui media Facebook atau Friendster sekalipun. Paling-paling yang sering kita comment, testimoni, sending message, post on wall, dan lain-lain masih juga orang yang sudah kita kenal lama. Mungkin teman satu geng masa SMA, boleh jadi teman se-organisasi waktu kuliah, atau temen kantor sendiri.

Bayangkan kalau saja kehidupan kita akan terus-menerus seperti ini, lama-lama 'keintiman sosial' --istilah yang digunakan Anthony Giddens-- akan memudar juga; karena sempitnya kehidupan kita itu. Mungkin kita berpikir, pekerjaan yang sudah dijalani 10-15 tahun belakangan sangat berarti bagi kehidupan kita. Sampai-sampai jarang mengunjungi orang tua, kumpul dengan keluarga, ibadah juga seadanya, atau porsi waktu yang sedikit sekali untuk anak dan istri. Padahal dalam hidup kita belum memberikan banyak baik untuk diri sendiri, keluarga, atau kepada lingkungan. Mungkin tekanan sosial yang kronis macam ini serupa dialami oleh ribuan orang-orang yang tinggal di kota London, New York, Madrid, Tokyo, Amsterdam, Paris, dan lain lain.

Apa cara mudah merenovasi bangunan solidaritas sosial yang mampu menyehatkan lingkungan masyarakat kita? Mengobrol adalah. . . .

-- to be continued --

Tuesday, 30 September 2008

Ramadhan Bulan Kontemplasi









Momen.. sering kali kita membutuhkan suatu momen untuk membuat sesuatu lebih berarti. Hal yang paling umum adalah hari lahir, sangat sering momen ini digunakan seseorang untuk merefleksikan kehidupannya. Hal apa saja yang sudah diperbuat selama waktu yang sudah dilalui dan masa akan datang yang baru akan dijamahnya sesaat lagi. Hal ini wajar saja, karena pada dasarnya manusia itu makhluk yang berpikir, bukan?


Juga, sama sekali nggak salah kalo momen Ramadhan ini semaksimal mungkin kita manfaatkan untuk merenungkan kembali arti hidup itu sendiri. Mungkin secuil tulisan berikut bisa menjadi media yang bermanfaat. Sebuah tulisan yang dibuat sahabat, yang cukup ingin disebut sebagai FS membuat saya tersentu, bagaimana Anda..


Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman. Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si kembar) Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.

Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadarinya sholat jama ' ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali. Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah. Setiap sholat jama ' ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu.

Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan sholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha keras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.

Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah membelikan seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.



26 Desember 2004

Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya nyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa. Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad Rahma n tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya. "Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu." Nah jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di sekitar, tetap khusuk.


Delisa pelan menyebut "ta ' awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah". Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar".

Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat. Mengirimkan pertanda kelam menakutkan.


Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias lebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa, tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti", lantai sekolah bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik.

Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa. Menembus bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu. Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!


"Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya, wa-ma-ma-ti..."

Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah, Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah membasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahma n, sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya digigit kalajengking?


Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama kalinya ia bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah...


Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok sekolah. Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras .... SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi. Delisa ingin khusuk. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya. Delisa megap-megap. Gelombang tsunami tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa. Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah "i ' tidal..." "Al-la-hu-ak-bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya.


Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum kepalanya menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy Allah." Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk, menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret. Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagar besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudah tak bisa menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air keruh. Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah menyembur dari mulutnya.


Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan sekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil menghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari tangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang diatasnya.


"Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur berbisik sendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu Guru Nur bersiap menjemput syahid.


Minggu, 2 Januari 2005


Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang pucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasil menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John F Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku
tangan kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya.


Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan. Abi Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari pingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu ' alaf setelah melihat kejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadi Salam.


Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka. Tapi duka itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana.


Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan seadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa.


21 Mei 2005


Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit. Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak terbolak-balik. Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat, Delisa terisak. Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka belajar menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik. Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci tangan di sungai dekat dari situ.


Ketika ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung belibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya. Delisa terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang sungai.


Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah. Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut. Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia. Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.

UMMI.....

Subhanawloh......

Monday, 29 September 2008

Malaysia Takut Musik Indonesia











Selisih waktu antara posting tulisan saya ini dengan yang terakhir terbilang cukup jauh, sampai-sampai membatin, "sebetulnya niat nggak sih buat blogspot?" hehe. Apalagi blog-nya sendiri diembel-embeli nama Atmosfer Kata-Kata, kalo gak pernah ditambah kata-kata yaa atmosfer-nya hampa udara toh? sak isi-isinya malah bisa jadi mati semua...

Yasudah, minta maaf terutama kepada diri saya sendiri deh untuk inkonsistensinya, abis menjelang 15 hari terakhir bulan puasa pekerjaan rasanya di-akselerasi untuk bisa selesai sebelum libur yang cuman berumur seminggu itu. Giliran masuk libur, ada aja keperluan keluarga yang sifatnya cicilan. Entah antar-jemput kesana-kemari, buka dirumah anu atau dirumah uni, macam-macam. Sebut saja kalau belakangan ini sedang agak sibuk, kalau ndak mau dibilang sedang malas menulis, fiiuuuuh..

Nah, sekarang saya punya obrolan yang mungkin menarik (mungkin juga nggak) untuk bisa kita diskusikan bareng. Ceritanya tentang kekhawatiran sejumlah seniman dan musisi asal Negeri Jiran terhadap masivitas perkembangan industri musik Indonesia, yang ikut berdampak pada iklim permusikan Malaysia.

Sebuah kelompok yang menamakan dirinya wartawan (nama yang aneh untuk suatu perkumpulan seniman musik) mendatangi kementrian budaya Malaysia dan minta dibuatkan kebijakan resmi berbentuk undang-undang atau peraturan dari pemerintah yang isinya membatasi pemutaran dan peredaran lagu-lagu Indonesia yang diputar di radio dan televisi Malaysia. Mereka beralasan bahwa jumlah hits-hits yang berasal dari Indonesia, kian waktu kian mengancam keberadaan industri musik Malaysia yang saat ini makin ditinggalkan anak-anak muda Malaysia. iiiih.. Males banget nggak si looh dengernya?!

Jujur aja nih, begitu saya membaca ulasan ini di harian umum Media Indonesia, saya kok jadi geli sendiri aja.. Najis bgt deh! Cocok sekali dengan pribahasa "" Buruk rupa jangan kaca dibelah", apa mereka (wartawan_pen) nggak sadar (baca: malu) kalo secara nggak langsung mereka terang-terangan menyampaikan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, kelemahan, bahkan kekalahan dalam berkompetisi dengan industri musik negara tetangga (baca: Indonesia Raya yang selalu kucintai, hehe..) hingga mengemis kebijakan kepada pemerintahnya untuk membatasi, hingga restriksi masuknya hasil karya musisi Indonesia. Menurut saya tindakan seperti ini sangat buruk dan ndak mendidik terutama bagi sosialisasi perilaku pikir generasi muda Malaysia itu sendiri. Loh memangnya kenapa?

Pertama, jelas sekali kita ini hidup dalam kultur kompetisi yang sangat keras, inovasi dan kreativitas makin jadi tuntutan yang ' nggak bisa nggak!'. Apalagi kalo bicara dalam konteks industri, apapun lahan garap-nya tidak terkecuali industri musik. Unsur kreativitas dan produktivas karya dari kreatornya menjadi sangat penting. Jangan kalo nggak kreatif dan nggak produktif malah main gusur dan main sikut macam begini, najis bgt deh!

Kalo temen-temen ingat musisi pop-rock kawakan asal Malaysia, Amy Search. Ternyata si 'Isabella adalah..' ikutan juga berpendapat soal rame-rame masalah ini. Katanya dengan nada yang sedikit kecewa, Kuala Lumpur khususnya dan Malaysia secara umum tidak ubahnya seperti kota Jakarta kalo udah lewat jam 10 malam. Kenapa? Karena begitu kita 'stel' radio, hampir 90%-nya lagu-lagu hits Indonesia yang diputer disana. Band-band langganan macam Peterpan, GIGI, Ungu, DEWA 19, Nidji dan SO7 tetep jadi top request. Terus kenapa baru jam 10? Cuma itung-itungan pengelola radio aja, yaah bisa dibilang jaga sikaplah supaya nggak terlalu ngelunjak kesan-nya. Anak-anak muda juga udah pada duduk rapih begitu hampir jam 10-an. Arus SMS yang isinya pesan-pesan lagu dan kirim-kirim pantun maupun salam mulai membanjir.

Fenomena seperti itu yang menimbulkan kekhawatiran kelompok pemerhati musik Malaysia tadi. Mereka nggak mau mencontoh Singapura yang sudah sama sekali kehilangan musisi lokal yang bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri. Menurut kelompok Wartawn itu, kalau kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, maka kehancuran musik Malaysia tinggal urusan menunggu waktu saja.

Coba sedikit lagi kita berpikir, (ternyata) betapa kuat solidaritas dan kekuatan elemen bangsa Malaysia yang coba melakukan langkah antisipasi terhadap suatu keadaan yang diperkiraan akan terjadi di waktu akan datang. Suatau kondisi yang belum terjadi, bahkan kepastiannya untuk bakal terjadinya pun belum tentu. Nah, apa mungkin elemen musik Indonesia bisa mencontoh hal ini? Tentu bukan mencontoh untuk melarang musik ini atau musik itu, tapi mungkinkah kita bisa berkumpul jadi satu yang bertujuan melindungi karya musik anak bangsa?

Jangankan memikirkan bagaimana bentuk industri musik Indonesia masa depan, mengurusi masalah pembajakan pun mulai dari jaman baheula belum ada kemajuannya. Undang-undang perlindungan karya musik memang ada, tapi implementasinya di lapangan masih NOL besar! Walaupun hebatnya musisi Indonesia, segila apapun karya-nya dibajak, tapi hasrat bermusik tidak pernah surut. Coba kalo musisi Indonesia mogok masal, wah pasti besar sekali ekses-nya ke industri musik Indonesia secara makro.

Belum lagi ada statement-statement yang entah kenapa, tapi menurut saya sifatnya sangat tidak produktif. Terutama dari 'band-band indie' yang menjelek-jelek-kan band-band lain yang dianggap musik sampah. Band macam Kangen Band, ST12, MATTA band, Radja dan semacamnya itu dianggap menghambat peningkatan kualitas musik dalam negeri baik dari aspek kreator sekaligus pendengarnya. Tapi apa lacur, angka penjualan 'band-band sampah' tadi sampai tembus level double platinum atau minimal 250 ribu keping, fantastis!

Saya jadi khawatir, ada kecemburuan dari band-band indie tentang realitas kesuksesan band-band yang menurut mereka secara musikalitas sangat jauh dibawah standar itu. Mudah-mudahan sih nggak, karena kalo melihat track record band indie yang selalu "jujur" dalam bermusik. Mudah-mudahan! tujuannya murni dan cuma satu, supaya kualitas musik dalam negeri makin meningkat lagi.

Teman-teman, kita memang boleh berbangga dong ternyata hasil karya musisi dalam negeri dihargai dan mampu meng-invasi industri musik negara tetangga, seperti Malaysia. Tapi bukan berarti puas, sebaliknya nih karya-karya dalam negeri mesti tambah oke kedepannya.


Maju Terus Musisi Indonesia..!